Rabu, 24 Juli 2013

KISAH CPNS 2012: “ANTIPATI, MOTIVASI, DAN PRESTASI”





Akhir-akhir ini beredar kabar kalau Kementerian Hukum dan HAM RI akan membuka rekrutmen pegawai. Dalam beberapa situs internet disebutkan per tanggal 23 Juli 2013 kemarin, akan dirilis registrasi online nya. Hal ini menjadi de javu bagi saya pribadi. Tepat satu tahun yang lalu merupakan masa yang paling tidak terlupakan. Yup, saya lulus tes CPNS..hehe.. Rasa bahagia yang sangat tak terkira. Saya dapat menepis anggapan banyak orang bahwa menjadi CPNS itu harus punya kolega ataupun materi.

Dalam kesempatan ini, izinkan saya untuk membagi sepenggal kisah hidup saya selama proses untuk menjadi CPNS Tahun 2012. Singkat cerita, selepas diterima menjadi CPNS, Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Yth. Prof. Denny Indrajana, SH., LL.M., Ph.D, menginstruksikan kepada setiap CPNS yang diterima untuk menulis pengalaman inspiratifnya dalam bentuk artikel yang kemudian akan dipilih yang terbaik untuk ditampilkan pada acara pembukaan orientasi CPNS di Jakarta. Tulisan saya ini akhirnya memang tidak dipilih oleh beliau saat itu. Mungkin, belum terlalu inspiratif..hehe.. Tapi, membiarkan tulisan ini tersimpan dalam folder laptop, bukanlah hal yang bijak. Dapat saja, pengalaman saya ini dapat memberikan inspirasi bagi teman-teman semua (yang berkeinginan menjadi CPNS), bahwa kesuksesan itu tidak datang dengan mudah. Mengutip ucapan Dedy Corbuzier pada acara talkshow Hitam Putih semalam bahwa: "Jangkan untuk mendaki sebuah kesuksesan, untuk menaiki tangga saja kita harus lebih banyak diam". Hal ini berarti kesuksesan itu dicapai dengan perjuangan. Betullah kata pepatah yang mengatakan bahwa: "Tong kosong nyaring bunyinya". Orang yang sukses tentu tidak mengeluarkan energinya untuk banyak bicara. Tapi prestasinya lah yang kemudian berbicara kelak.

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya sedikit malu untuk membagi pengalaman ini..hehe.. Merasa belum layak untuk dipublish. Masih banyak orang lain yang memiliki nasib yang sama seperti saya dengan cerita yang lebih inspiratif. Tapi apapun itu, setidaknya saya sudah pernah mencoba untuk membagi cerita ini kepada orang lain. Berikut isi tulisannya:


ANTIPATI, MOTIVASI, DAN PRESTASI”

Diawali dengan sikap apatis, hanya motivasi yang dapat mengalahkannya..
Man Jadda Wajada.. Man Shabara Zhafira..

Antipati vs. Motivasi
Sudah menjadi rahasia umum, menjadi seorang abdi negara (baca: Pegawai Negeri Sipil - PNS) bukanlah perkara mudah di Republik ini. Belum bagi kita untuk melamar, selintingan kabar miring soal rekrutmen PNS pun merebak. Ada beberapa oknum di Instansi / Kementerian yang pasang tarif tertentu. Kalau bukan kolega, keluarga, atau yang memiliki hubungan erat dengan pimpinan suatu lembaga tertentu, jangan harap bisa mendapatkan NIP sebagai PNS.

Semuanya, saya awali dengan sikap antipati. Namun, harapan dan cita-cita untuk menjadi abdi negara pun tidak pernah hilang dari benak saya. Hingga akhirnya pada tanggal 11 Juli 2012, ada pengumuman via internet bahwa ada rekrutmen CPNS untuk TA 2012. Tentu, dengan latar belakang pendidikan saya sebagai Sarjana Hukum, di antara banyak pilihan instansi yang membuka rekrutmen pada saat itu, saya menjatuhkan pilihan untuk melamar sebagai CPNS di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia (Kemenkum dan Ham). Kemenkum dan Ham sendiri menjadi instansi idaman saya sejak dulu. Hemat saya, semua ilmu dan wawasasan yang saya dapat selama menempun pendidikan di Strata-1 dapat diaplikasikan dengan baik, bila saya bergabung di Instansi yang memiliki semboyan “Pengayoman” tersebut.

Tidak dipungkiri, pada saat membuka laptop dan membaca semua syarat-syarat yang dibutuhkan untuk mendaftar, semuanya saya lakukan dengan berat hati. Bukan berat dalam arti tidak mampu untuk melakukannya, tetapi karena dari awal pikiran saya sudah membayangkan tidak akan ada kesempatan bagi saya yang tidak mempunyai uang, kolega, bahkan keluarga di Kemenkum dan Ham untuk menjadi PNS.

Sempat beberapa hari saya hiraukan pengumuman tersebut. Tidak sedikit teman satu angkatan yang antusias untuk mengikuti seleksi ini. Semuanya beragirah, tetapi tidak untuk saya. Bagi saya, seleksi CPNS tidak lebih sebagai ajang untuk memberikan uang sebanyak mungkin dan mencari kenalan siapa saja untuk diajak “negoisasi”. Prinsip ini tetap saya pegang teguh, sebelum akhirnya orang tua saya menanyakan apakah saya ikut dalam seleksi CPNS di lingkungan Kemenkum dan Ham. “Sepertinya saya tidak ikut tes, bu. Sudah pesimis duluan”, lirih saya.

Namun, itulah visi orang tua yang tidak dimiliki oleh anak. Orang tua saya malah berpendapat lain. “Alvi, kita tidak akan tahu hasil yang kita dapat, sebelum kita mencoba”, tukas bapak saya. Dalam beberapa waktu saya merenungi kalimat itu, hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti tahapan seleksi yang dimaksud.

Memang, akhirnya rasa optimisme itu muncul ketika orang tua yakin dan percaya bahwa anaknya mampu melakukannya. Hal itu, ditambah seleksi CPNS tahun ini merupakan seleksi CPNS saya yang pertama kali, setalah saya menamatkan pendidikan Strata-1 di Fakultas Hukum Universitas Sriwjaya (Indralaya) pada Maret 2011. Sebagai informasi, pada tahun 2011 sama sekali tidak ada rekrutmen CPNS, karena Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan) melakukan moratorium rekrutmen CPNS. Hingga hipotesa saya waktu itu, mungkin ini saatnya bagi Republik ini melakukan “bersih-bersih” dalam seleksi CPNS. Jadi saya berpikir, kalau tidak masuk pun tidak apa-apa. Hitung-hitung menambah pengalaman. Apalagi pada saat itu saya sedang meneruskan studi di Program Pasca Sarjana di Universitas Sriwijaya. Singkat kata, nothing to lose-lah.

Di pengumuman tersebut, dijelaskan bahwa ada rekrutmen CPNS untuk beberapa formasi yang ditawarkan. Setelah berkonsultasi kepada orang tua, akhirnya pilihan saya jatuhkan kepada formasi “Pemeriksa Dokumen Imigrasi”. Dengan polos saya bertanya kepada orang tua, “Bapak, Ibu.. Kok harus Pemeriksa Dokumen Imigrasi?”, saya berseloroh. “Ndak apa-apa. Dicoba aja dulu. Bapak, ibu pengen liat kamu jadi pejabat”, ujar ibu saya sambil tersenyum. Bagi saya, melihat orang tua tersenyum dan ada rasa optimis di hati mereka, menjadi motivasi terbesar bagi saya saya untuk mengikuti tahapan ini. Lambat laun, antipati itu pun sirna. Kini rasa optimisme yang bergelora di hati. “Insya Allah, saya bisa”, ucap saya dalam hati. Meminjam pepatah arab, “Man Jadda Wajada” (siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil).

Perjuangan Itu Dimulai
Tepat pada tanggal 23 hingga 27 Juli 2012, pendafataran online dibuka secara serentak oleh Kemenkum dan Ham. Kemudian, untuk tahapan pengiriman berkas dilakukan pada tanggal 24-31 Juli 2012. Tercatat, hanya ada waktu 7 hari kerja efektif yang harus saya manfaatkan sebaik mungkin untuk melakukan registrasi online dan mengirimkan berkas ke Kantor Wilayah Kemenkum dan Ham Sumsel.

Setelah mencatat apa saja persyaratan yang dibutuhkan untuk melamar CPNS di Kemenkum dan Ham, saya lalu bergegas untuk menyiapkan dokumen yang diperlukan. Semua syarat yang diperlukan, pada dasarnya tidak sulit bagi saya. Semuanya hanya berkutat pada masalah administrasi. Kebetulan sudah jauh-jauh hari, saya telah menyimpan beberapa arsip dokumen yang dibutuhkan (atau lebih tepat nya eks-dokumen CPNS tahun lalu yang akhirnya tidak terpakai, karena dilakukan moratorium).

Semua berkas telah siap. Berulang kali saya mengecek jangan sampai ada dokumen yang tertinggal. Dalam benak saya, kurang satu dokumen, berarti hilang harapan untuk menjadi PNS tahun ini. Setelah semua dirasa lengkap, maka berkas pun siap saya kirim. Pengiriman berkas dilakukan menggunakan jasa Kantor Pos. Uang sebesar RP. 15.000,- saya keluarkan dari kantong dengan harapan, berkas ini dapat diterima tepat waktu oleh pihak Kanwil.

Harap-harap cemas, menanti pengumuman seleksi tahap pertama (administrasi). Karena dari awal saya sudah bersikap nothing to lose, maka semua hasil yang diberikan saya siap menerima dengan lapang dada. Tepat pada pukul 10.00 wib di hari Selasa, 7 Agustus 2012, teman saya menelpon bahwa saya lulus seleksi administrasi. Jalan masih panjang, pikir saya. Jangan cepat berpuas hati dulu.

Dalam pengumumuan tersebut, disebutkan bahwa setiap peserta yang dinyatakan lulus seleksi adminstrasi untuk kembali menghadap ke Kanwil demi dilakukan pengecekan ulang berkas dan penyerahan nomor ujian pada pukul 08.00 WIB, hari Kamis, 9 Agustus 2012. Rasa bangga menghampiri saya pada saat itu. Secara spontan saya menelpon orang tua saya (yang kebetulan sedang bertugas di luar kota) bahwa anak nya telah lulus selesi administrasi. Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah SWT. Terlihat berlebihan memang. Namun, bagi saya setidaknya ini sudah menjadi prestasi tersendiri, bahwa semua usaha saya selama mempersiapkan berkas administrasi menuai hasil.

Hari kamis telah datang. Tepat pukul 07.30 WIB, saya sudah berada di Kanwil. Terlihat ratusan orang telah berkumpul di sana. Dalam benak saya berkata, setidaknya di antara saya dan mereka akan ada yang menjadi PNS di Kemenkum dan Ham. Rasa optimisme itu tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya. Tidak tahu mengapa. Agenda hari itu pun berjalan lancar. Di sana saya kembali bertemu (baca: reuni) teman-teman seperjuangan di kampus dulu. Ternyata banyak di antara mereka yang juga mengambil formasi yang sama seperti saya, yaitu Pemeriksa Dokumen Imigrasi.

Acara dimulai tepat waktu. Sambil menunggu giliran panggilan, sesama kami melontarkan candaan untuk mencairkan ketegangan. Banyak di antara teman saya yang sudah bekerja. Berbeda dengan saya yang masih setia sebagai “pengangguran intelektual”.

Di tengah agenda itu pun, tiba-tiba Bapak Elfinur Bermawi, SH., MH (waktu itu saya belum tahu siapa nama beliau), selaku Ketua Panitia Pengadaan CPNS Kanwil Kemenkum dan Ham Sumsel, mengumumkan bahwa bagi pelamar formasi Pemeriksa Dokumen Imigrasi dan Pengaman Pemasyarakatan, akan didahului dengan tes kesehatan dan kesemaptaan sebelum dilakukan tes tertulis. Saya tersentak kaget. Dalam benak saya, tes kesehatan apalagi? Bukankah sudah dilampirkan surat keterangan kesehatan dari pihak Rumah Sakit? Pertanyaan itu tersus berlanjut dalam benak saya. Apa itu tes kesemaptaan, apa yang harus dipersiapkan, dimana, dan kapan itu diadakan. Semua berkecamuk menjadi satu. Ditambah lagi, suasana gaduh yang membuat suara beliau menjadi tidak terdengar.

Waktu pun beralalu. Tiba giliran nama saya yang dipanggil. Rasa gugup pun hadir. Dengan mantap saya masuk ke salah satu ruangan Kanwil. Disana sudah ada beberapa panitia yang siap memeriksa dokumen yang saya bawa. “Ini benar dokumen kamu, dek?”, tegas salah seorang panitia. “Iya, pak. Ada apa?”, jawab saya gemetar. “Kayaknya kamu salah formasi. Untuk formasi pemeriksa dokumen imigrasi harus dari latar belakang pendidikan Sarjana Ekonomi dan Sarjana Bahasa Inggris”, ucapnya sambil mengembalikan dokumen saya. Bagai petir di siang bolong. Saya kaget bukan kepalang mendengar pernyataan bapak itu. Apa saya yang salah baca persyaratan atau bapak panitia itu yang salah. “Benar kok pak. Dokumen saya sudah benar kok”, lirih saya. Lalu tiba-tiba, dokumen saya diambil kembali oleh panitia lain yang duduk di sebalah bapak itu. “Ooh, dokumen kamu benar. Formasi imigrasi juga untuk Sarjana Hukum. Silahkan kamu ke meja selanjutnya, untuk mengambil nomor ujian”, ucap panitia itu. “Alhamdulillah”, ujar saya dalam hati. Saya berpikir, mungkin ini adalah bagian dari proses. Setiap proses harus diperjuangkan. Dan setiap perjuangan, Insya Allah akan ada hasilnya.

Tahap selanjutnya adalah pengambilan nomor ujian. Di sana sudah ada Ketua Pantia didampingi oleh panitia lainnya. Nomor ujian pun diserahkan kepada saya. Tertulis disana 007 06 4 007 00000. Ya, ini adalah nomor ujian saya, teriak saya dalam hati. Nomor inilah yang kemudian akan menjadi saksi perjalanan saya untuk menjadi PNS tahun ini.

Setelah mencatat, jadwal dan apa saja yang dipersiapkan serta yang diujikan dalam tes kesemaptaan tersebut, saya bergegas pulang. Di perjalanan saya berpikir, pelayanan yang diberikan oleh pihak kanwil cukup prima. Saya melihat tidak ada peluang untuk melakukan negoisasi, apabila ada berkas yang kurang. Saya hampir menjadi korban, ketegasan pihak panitia. Apabila bapak panitia itu tidak mengecek kembali dokumen saya, maka ucapkan selamat tinggal untuk menjadi PNS tahun ini. Ya, ketegasan itu yang diperlukan dalam seleksi semacam ini. Sehingga tidak ada kesempatan untuk melakukan KKN. Praktik demikian tentu hanya akan melahirkan abdi negara yang berorientasi pada materi.

Di rumah, saya langsung kembali membuka semua buku-buku serta arsip-arsip soal CPNS yang saya punya. Setelah saya lulus kuliah pada Maret 2011, setidaknya lima seri buku tes CPNS (merek apapun) saya beli. Pikir saya, semua itu butuh persiapan. Kesuksesan itu lahir karena adanya kesempatan dan persiapan yang matang dalam diri kita. Namun, walaupun tahun kemarin tidak ada seleksi CPNS, semua buku-buku tes itu pun tetap saya pelajari. Setiap pagi dan malam, semua soal saya pelajari. Bahkan setiap bagian soal tertentu saya lakukan pengulangan. Dengan harapan, kelak saya akan terbiasa dengan pola-pola soal CPNS nanti.

Seminggu hari sebelum tes kesehatan dan tes kesemaptaan, semua persiapan sudah saya siapkan. Mulai dari fisik, mental, hingga pakaian yang akan digunakan. Perlu diketahui, tes tersebut dilakukan persis satu minggu setalah Hari Raya Idulu Fitri. Tentu, demi mempersiapkan diri dalam tes kali ini, terpaksa saya harus menahan diri untuk tidak terlalu banyak makan rendang, opor, dan makanan yang mengandung santan, yang merupakan sajian khas lebaran. Semuanya saya lakukan demi menjaga fisik dan mental sebelum tes dimulai.

Tepat pada hari Senin, tanggal 27 Agustus 2012, tes kesehatan dan tes kesemaptaan pun dimulai. Saya berangkat pukul 06.30 WIB dari rumah, dengan diantar oleh sang adik. Adik saya pun ikut mendoakan, semoga semua rangkaian tes yang saya lakukan berjalan dengan lancar. Tes pada pagi itu berlokasi di dalam Stadion Sepak Bola Kamboja. Stadion berarsitektur lama, namun memiliki historikal panjang. Sampai di sana, para peserta sudah berkumpul. Ada yang pemanasan, ada yang ngobrol, bahkan ada yang mondar-mandir ke toilet (mungkin karena gugup). Hal serupa juga saya lakukan. Entah mengapa. Pergi toilet sebelum tes dimulai, seakan telah menjadi ritual wajib bagi saya.

Tepat pukul 08.00 WIB, acara dimulai. Didahului oleh sambutan Ketua Panitia. Berulang kali, beliau mengatakan bahwa seleksi CPNS (di lingkungan Kemenkum dan Ham) tahun ini 100% bebas praktik KKN. Tidak ada pungli. Semua dilakukan secara transparan. “Yakinlah adik-adik sekalian. Semua tahapan seleksi kita lakukan secara bersih dan fair”, tegas Ketua Panitia.

Selintas saya menganggap itu hanya sebatas lip service belaka. Pikiran saya soal praktik KKN dalam pengadaan CPNS pun masih terngiang dalam benak saya. Semua itu seolah-olah sudah tersistemisasi. Sehingga sulit bagi saya untuk menerima dengan akal sehat, bahwa seleksi ini akan berjalan dengan fair. Namun di sisi lain, rasa optimisme itu tetap tersimpan dalam dada saya. entah mengapa. Mungkin karena orang tua yang terus meyakinkan saya. “Insya Allah, kamu bisa, nak”, ucap bapak saya sebelum saya pergi tes.

Semua peserta dikumpulkan di dalam lapangan sepak bola, tidak terkecuali. Setiap peserta dibagi dalam beberapa pleton (kelompok). Seingat saya, saya sendiri tergabung dalam pleton 5. Persis hampir 1,5 jam kami menunggu giliran untuk dilakukan tes. Terlihat beberapa pleton sudah melakukan tes. Pleton kami masih menunggu giliran. Di sela-sela menunggu itu, salah seorang panitia kembali meyakinkan kami bahwa seleksi CPNS kali ini akan dilakukan secara fair dan transparan. Kembali saya tanggapi dingin pertanyaan panitia itu.

Tiba giliran pleton kami. Kami diinstruksikan menyiapkan diri. Tes pertama adalah tes kesehatan. Diawali dengan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Bagi peserta tes yang tidak memiliki standar tinggi yang telah ditentukan, langsung disuruh pulang pada saat itu. Begitu juga bagi peserta yang tidak memiliki berat badan proposional, juga diperkenankan untuk pulang. Semua dilakukan secara fair. Tidak ada kompromi sama sekali. Ketegasan berlaku disini. Setidaknya hampir dari sebagian peserta dalam pleton kami disuruh pulang, karena tidak memiliki tinggi dan berat badan yang proposional.

Ketegasan dalam tes kesehatan pun berlanjut, ketika dilakukan pengecekan tatto dan tes buta warna. Beberapa di antara kami juga dinyatakan gugur. “Kejam sekali panitia ini”, pikir saya dalam hati. Tidak ada ruang untuk kompromi. Tapi inilah bagian dari ketegasan. Sikap demikian diperlukan, untuk menghasilkan abdi negara yang ideal dan jauh dari praktik korupsi.

Semua tes kesehatan saya lalui dengan baik. Sekarang saatnya bagi kami untuk mempersiapkan diri untuk tes kesemaptaan. Rangkaian tes diawali dengan lari dengan jarak tempuh 1200 meter selama 12 menit bagi laki-laki dan 14 menit bagi perempuan. Dalam tes ini, saya mendapat 5 ½ putaran sepak bola dalam waktu 12 menit. Catatan yang sangat baik, di antara para peserta yang lain. Bagi saya pribadi, aktivitas lari tidak menjadi soal. Setidaknya saya rutin melakukan olahraga lari 4 kali dalam seminggu. Sehingga, tes lari pun saya akhiri dengan sukses.

Tes selanjutnya adalah sit up, yang kemudian dilanjutkan dengan push up dalam waktu 1 menit. Dalam tes sit up saya mendapat 37 kali dalam waktu 1 menit. Sedangkan, pada tes push up, saya mendapat 50 kali dalam 1 menit. Catatan yang juga sangat baik di antara para peserta yang lain.

Semua juga saya lakukan dengan sukses. Tes kesemaptaan ini pun diakhiri dengan tes shuttle run dengan jarak 10 meter dalam waktu 3 menit. Lagi-lagi semua saya lakukan dengan baik. Entah mengapa, semua rangkaian tes, saya lakukan dengan semangat. Rasa percara diri dan oprimisme itu tersimpan dalam dada. “Insya Allah saya bisa”, ujar saya.

Agenda hari itu pun diakhiri dengan pengumuman bahwa hasil tes kesehatan dan tes kesemaptaan akan diumumkan 3 hari setalah tes dilakukan. Semua tes telah saya lakukan dengan baik. Apapun hasilnya, apakah itu lulus ataupun gagal, itu adalah hasil yang harus saya terima.

Dalam perjalanan pulang (dari Stadion Sepak Bola Kamboja menuju Halte Bus, kira-kira berjarak 500 meter), keyakinan itu pun muncul. Ya, kembali muncul. Setiap kaki melangkah, saya selalu menyebut kata “Imigrasi.. Imigrasi.. Imigrasi..”. semua kata-kata itu muncul secara spontan. Entah mengapa.

Sesampai di rumah, seperti biasa saya menceritakan semua pengalaman tes saya hari ini kepada orang tua dan adik-adik. Tidak ada satu bagian pun yang saya lewatkan untuk diceritakan. Seperti biasanya, kedua orang tua pun kembali menyemangati saya. “Insya Allah, kamu bisa, nak”, ungkap ibu saya.

Waktu pun berlalu. Hasil tes kesehatan dan tes kesemaptaan pun diumumkan via internet. Seperti biasa, www.sumsel.Kemenkum dan Ham.go.id menjadi situs yang paling rutin saya buka selama tahapan seleksi ini. Alhamdulillah, akhirnya nama saya tercatat dari 170 peserta yang dinyatakan lulus. Dengan hasil ini, maka setidaknya sebanyak 135 peserta dinyatakan gagal dalam tes kali ini.

Rangkaian tes selanjutnya adalah tes akhir, yaitu tes tertulis yang akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 8 September 2012. Lokasi tes bertempat di Gedung Sekolah Harapan Internasional, kurang lebih berjarak 5 Kilometer dari rumah saya. Praktis, saya hanya memilii waktu yang relatif singkat untuk menghadapi tes tertulis kali ini. Semua buku tes CPNS, saya lahap. Begitu juga soal-soal CPNS online. Hampir semuanya saya pelajari. Namun, tanpa ada pengalaman tes CPNS sebelumnya, rasa gugup itu terus menghampiri. Tapi, dengan niat yang tulus dan iklhas, serta dibekali oleh doa orang tua, keyakinan dan optimisme itu tetap hadir dalam dada saya. Insya Allah saya bisa.

Hari yang dinanti pun tiba. Tepat pukul 07.00 WIB saya sudah tiba di lokasi tes. Menurut jadwal, tes tertulis hari ini akan dimulai pada pukul 08.00 WIB. Berhubung sehari sebelumnya (tanggal 7 September 2012), saya sudah mengecek nomor ujian dan tempat duduk dimana saya tes, maka tidak sulit bagi saya untuk menuju lokasi ujian. Saya langsung menuju kursi dimana akan menjadi saksi perjuangan dan sejarah bagi saya kelak. Tidak sedikit, teman yang mengajak ngobrol. Ada yang mengajak bercanda. Atau apapun itu, untuk menghilangkan ketegangan. Namun, saya justru menghindari hal-hal tersebut. Saya malah tersenyum, dan tidak menanggapi tawaran teman untuk mengobrol. Bagi saya, sikap seperti itu hanya akan menghabiskan energi. Kita akan kehilangan fokus. Bukankah tujuan kita kesini untuk mengikuti tes? Bukankah kita semua akan berkompetisi? Lalu, mengapa kita hanya akan membuang energi dengan bercanda dan mengobrol? Fokus, fokus, dan fokus. Semua persiapan akan percuma, apabila kita kehilangan kosentrasi dan fokus!! Itu teriak saya dalam hati.

Hingga pukul 09.00 WIB, tes tertulis pun belum dimulai. Entah mengapa. Selama itu pun, setidaknya saya sudah mondar mandir ke toilet sebanyak 10 kali. Ya, itulah ritual wajib saya sebelum mengerjakan tes. Ya, tes apapun itu. Pikir saya, selama melakukan tes, kita jangan sampai terbebani oleh sesuatu yang malah mengganggu pikiran. Intinya, jangan sampai ada yang menghalangi kosentrasi kita.

Tes pun akhirnya dimulai tepat pada pukul 10.00 WIB. Tentu, didahului oleh pengarahan dari Ketua Panitia, Bapak Elfinur Bermawi, SH., MH. Dalam pengarahannya, ia berulang kali mengaskan bahwa seleksi CPNS kali ini bebas dari praktik KKN. Semuanya dilakukan secara fair dan transparan. Berulang kali, beliau menyampaikan hal tersebut. beliau jugaa menambahkan bahwa jangan sekali-sekali ada joki dalam tes tertulis kali ini. Tidak ada toleransi bagi setiap peserta yang menggunakan joki. “Langsung kita nyatakan tidak lulus”, tegas nya.

Setelah dilakukan pengarahan, tes pun dimulai. Rasa gugup tetap ada. Tapi, hanya sekitar 2 menit. Setalah itu, saya enjoy mengerjakan soal. Soal CPNS kali ini terdiri dari 200 soal, dimana dibagi dalam 3 komponen. Komponen pertama terkait dengan soal Wawasan Kebangsaan, Intelegensi Umum, dan Karakteristik Kepribadian. Jujur, saya tidak mengalami kesulitan berarti. Setidaknya saya dapat mengerjakan soal ini, karena saya sudah terbiasa melakukan latihan soal jauh-jauh hari. Sekarang waktunya fokus. Kosentrasi diperlukan. Tidak usah terpengaruh oleh hal-hal lain. Focus on the track!

Tes tertulis pun selesai pada pukul 12.10 WIB. Soal dan lembar jawaban pun saya serahkan kepada pihak panitia. Lega rasanya. Pada saat itu saya tidak memikirkan apapun hasil yang saya dapat. Semuanya terasa plong. Semua kewajiban sudah saya tunaikan. Ikhtiar pun sudah dikerjakan. Kini saatnya untuk memperbanyak doa, doa, dan doa. Tidak lupa selalu bertawakal kepada Allah SWT.

Man Shabara Zhafira...
Menurut pengumuman yang dilansir pada situs cpns.Kemenkum dan Ham.go.id, hasil tes tertulis akan diumukan pada tanggal 10 Oktober 2012. Entah mengapa, pengumuman belum jua muncul. Rasa was-was pun berkecamuk dalam dada. Setiap hari saya mengikuti perkembangan seleksi CPNS. Banyak berita yang saya baca. Perkembangan terakhir dari Kemenpan, hasil akhir tes CPNS tahun ini akan didasari oleh sistem passing grade. Dalam artikel tersebut, Azwar Abubuakar selaku Menteri Kemenpan mengatakan bahwa setiap komponen pada soal CPNS akan dinilai. Dengan rincian sebagai berikut: Wawasan Kebangsaan (10), Intelegensi Umum (15), dan Karakteristik Pribadi (30). Sampai saat itu pun saya masih bingung dengan sistem baru ini.

Akhirnya Kemenpan merilis daftar nilai hasil akhir tes tertulis untuk selurh CPNS. Situs yang dimaksud adalah cpns.menpan.go.id. Saya kemudian memasukkan nomor ujian, lalu tekan enter. Nilai akhir saya pun keluar. Berikut rinciannya: Wawasan kebangsaan (17,5), Intelegensi Umum (13,5), dan Karakteristik Pribadi (37,5), dengan total nilai 68,5. Nilai total saya cukup besar dibanding peserta tes lainnya (karena saya juga melakukan kroscek nilai peserta dengan memasuki nomor peserta satu per satu).

Namun, yang mengganjal hati saya adalah ada satu komponen nilai tes saya, ada yang tidak melampaui passing grade dari Kemenpan, yaitu Intelegensi Umum. Hati saya pun ciut. Rasa kecewa pun hadir. Semua perasaan saya curahkan kepada orang tua. “Pak, bu.. Sepertinya saya tidak lulus”, ucap saya perlahan. Orang tua tetaplah orang tua. Bapak ibu saya nampaknya tidak terpengaruh oleh sugesti saya. mereka malah kembali menyemangati seolah tidak terjadi apa-apa. “Kemenkum dan Ham kan belum kasih pengumuman resmi? Jadi belum tentu tidak lulus kan?”, ujar bapak saya. Saya kembali memandangi hasil tes saya itu. sedih memang. Harapan untuk menjadi PNS pun sirna.

Kemenkum dan Ham pun belum melakukan rilis resmi terkait dengan hasil akhir tes tertulis. Bahkan seingat saya, sekitar dua kali, Kemenkum dan Ham “mangkir” mengumunkan hasil tes. Pikiran negatif pun menghampiri benak saya. “Mungkin saja ada negoisasi di antara pimpinan Kemenkum dan Ham untuk meloloskan peserta tertentu. Kok sampai diundur-undur terus sih, jangan-jangan ada kompromi”, pikir saya.

Selama proses menunggu itu pun, dengan rutin saya mengaji Surat Al-Waqi’ah (ba’da shalat subuh), Surat Al-Mulk (ba’da shalat maghrib), Surat Ad-Dhuha (ba’da shalat dhuha), dan Surat Al-Kahfi dan Surat Yassin (setiap malam jum’at). Tidak lupa juga saya meminta doa kepada kedua orang tua, agar diberikan hasil yang terbaik (apapun itu) kepada Allah SWT.

Proses rekrutmen PNS di lingkungan Kemenkum dan Ham kali ini, langsung dikawal oleh Wakil Presiden RI, Bapak Boediono dan Wakil Menteri Kemenkum dan Ham, Bapak Denny Indrayana. Integritas mereka berdua soal anti korupsi tidak usah diragukan lagi. Berulang kali dalam berbagai kesempatan, Bapak Denny Indrayana mengutarakan bahwa proses seleksi CPNS (Kemenkum dan Ham) tahun ini akan bebas dari praktik KKN dan suap menyuap. Semuanya dilakukan secara transparan dan fair. Itulah mengapa, keyakinan dan optimisme saya terhadap seleksi ini masih bergelora. Insya Allah, saya bisa. Man Jadda Wajada!!

Tepat pada pukul 08.00 WIB, pada hari Selasa, 16 Oktober 2012, hasil resmi tes tertulis diumumkan. Rasa gugup pun menghampiri ketika saya membuka leptop. Terbayang, apabila saya gagal, maka pupus sudah menjadi PNS tahun ini. Dan saya siap untuk berjuang kembali tahun depan. Perlahan-lahan saya melihat pengumuman tersebut. Dimulai dari Kanwil Aceh, Kanwil Sumut, dan seterusnya. Tiba pengumuman untuk Kanwil Sumsel. Hati dan perasaan saya makin tidak karuan. Tepat pada formasi “Pemeriksa Dokumen Imigrasi” tertulis nama saya: M. Alvi Syahrin. Ya, itu nama saya!! Saya kembali memeriksa. Mungkin saya ada yang salah ketik. Atau mungkin terselip nama orang lain. “Nilai saya kan tidak cukup passing grade. Kok bisa lulus sih?”, tanya saya dalam hati. Berulang kali saya cek. Dan ternyata tidak ada yang salah. Ternyata itu benar nama saya: M. Alvi Syahrin. Dengan spontan, saya langsung berteriak, “Alhamdulillah ya Allah”.. Saya langsung sujud syukur. Rasa haru biru langsung pecah saat itu juga.

Rasa penasaran pun muncul dalam hati. Mengapa saya bisa lulus? Padahal kan nilai saya ada yang tidak mencukupi. Di suatu kesempatan, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada pihak Kanwil. Semuanya saya lakukan dengan tanda tanya. Setelah mendengar kegelisahan saya tersebut, pihak kanwil lalu menjawab, “Ada kebijakan dari Pusat, dik. Jadi passing grade untuk CPNS di Kemenkum dan Ham diturunkan sedikit”, ujar bapak itu. Sejenak saya merenungi semua ini. Memang, rezeki setiap cucu Adam tidak akan pernah tertukar. Semua sudah diatur oleh Allah SWT. Tugas kita sebagai manusia hanya berikhtiar, berdoa, dan tawakal. Sisa nya serahkan kepada Allah. Alhamdulillah wa Syukurillah.

Pembuktian Diri
Bagi saya, ini merupakan prestasi tersendiri. Jauh dari orang tua. Hidup sebagai anak pertama dengan tiga adik dan satu bibi di rumah. Hidup mandiri jauh dari sifat manja. Menjadi contoh bagi adik-adik, adalah suatu beban bagi saya. Juga menjadi tantangan yang harus saya buktikan, bahwa “Kakak mu ini juga bisa, dik. Masa kamu kalah”, tantang saya dalam hati.

Menyandang predikat mahasiswa berprestasi Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya pada tahun 2010 dengan IPK 3,82 juga menjadi tantangan berat yang harus saya buktikan. Kesabaran itu pun akhirnya berbuah hasil yang manis. Ketika perjuangan akhirnya dibayar dengan kesuksesan. Tidak ada sukses yang instan. Semuanya butuh proses. Pepatah arab mengatakan, “Man Shabara Zhafira” (siapa yang bersabar, maka ia akan beruntung). Prinsip itulah yang terus saya pegang.

Kabar yang mengatakan bahwa untuk menjadi PNS harus menggelontorkan sejumlah uang tertentu, memiliki kerabat, kolega, bahkan keluarga di suatu Instansi, berhasil saya tepis. Saya dapat membuktikan, untuk menjadi PNS itu tidak mahal!! Menjadi PNS tidak sulit! Menjadi PNS itu adalah pengabdian. Meminjam istilah Bapak Denny Indrayana, “tidak ada tempat bagi PNS yang masuk karena uang ataupun kerabat. PNS adalah profesi yang mulia”. Oleh karenanya, negeri ini butuh PNS yang bermoral. Tidak hanya pintar, tapi juga berkepribadian baik.

Jika ditanya orang, berapa uang yang kamu keluarkan untuk menjadi PNS? Dengan tegas saya katakan, “silahkan hitung uang pembuatan berkas lamaran kerja, ditambah uang ongkor kirim berkas, dan ditambah uang pemberkasan ulang”, jawab saya dengan bercanda. Praktis, hanya itu “biaya resmi” yang saya keluarkan untuk menjadi PNS. Tidak lebih dari itu.

Ditengah euforia kebahagian saya atas kelulusan ini, tentu terselip tantangan berat untuk membuktikan apakah saya memang layak untuk menjadi PNS di lingkungan Kemenkum dan Ham. Ada beban berat bagi saya ke depannya, agar dapat menjadi PNS yang benar-benar diharapkan atau tidak.

Itulah sedikit pengalaman saya selama mengikuti proses rekrutmen CPNS Kemenkum dan HAM Tahun 2012 kemarin. Harapan saya, semoga rekan-rekan semua dapat dan mau berusaha sebaik mungkin, karena nasib setiap anak cucu Adam tidak akan pernah tertukar, kalau ia mau terus berusaha. Dan semoga kedepannya, sistem pemerintahan kita akan lebih baik. Keep spirit, for the better Indonesia.

Muara Enim, Juli 2013
M. Alvi Syahrin

8 komentar:

  1. ceritanya memotivasi bangett kak ,,,, wah sampe netes air mata ini bacanyaa... Subhanallah ...
    minggu depan saya baru test Administrasi Kejaaksaan.Semoga nantinya saya bisa cerita kayak kakak .. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tulisannya dapat menginspirasi dik vitri ya :)

      Yakinlah, setiap usaha + doa akan ada hasilnya. Berusahalah di atas rata-rata orang kebanyakan dan perbanyaklah doa. Insya Allah semuanya dilancarkan oleh Allah SWT.

      Semoga sukses ya tes cpns nya :)

      Hapus
  2. assalamu alaikum, dalam cerita diatas tadi katanya passing grade diturunkan.. saya mau tanya, yang diturunkan itu total passing grade atau passing grade per sub tes, seperti Wawasan Kebangsaan, Intelegensia Umum atau Karakteristik Peribadi,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. maaf baru bisa dibalas sekarang komentar nya. Setahu saya untuk tahun kemarin, passing grade yang diturunkan semua sub-tes. Mungkin pertimbangannya, formasi jabatan yang dibutuhkan bersifat urgent. Sehingga apabila nilai tes dibawah passing grade, maka akan banyak formasi jabatan yang tidak terpenuhi

      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

      Hapus
  3. bozz, ane jga bru diterima sbgai pemeriksa dokumen keimigrasian, mw nanya tu kerjanya seperti apa sich?? N kalo boleh tw nie brapa yakk THP per bulan yg diterima slama 1 tahun pertama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah selamat bergabung di Korps Imigrasi. Kalau boleh tau, saudara lulus tes untuk formasi jabatan apa? Nanti bakal dikasih tau kok uraian kerja nya apa aja. Untuk mengetahui lebih banyak hal ihwal Keimigrasian, silahkan baca UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian atau silahkan berkunjung ke Website Ditjen Imigrasi: www.imigrasi.go.id

      Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

      Hapus
  4. Assalamualaikum...
    Menginspirasi banget tulisannya, diatas kakak tulis "dengan rutin saya mengaji Surat Al-Waqi’ah (ba’da shalat subuh), Surat Al-Mulk (ba’da shalat maghrib), Surat Ad-Dhuha (ba’da shalat dhuha), dan Surat Al-Kahfi dan Surat Yassin (setiap malam jum’at). Tidak lupa juga saya meminta doa kepada kedua orang tua, agar diberikan hasil yang terbaik (apapun itu) kepada Allah SWT" Allah memang tak pernah mengecewakan hambanya ya kak, kalo ada usaha pasti ada hasil yang baik. saya mau ikutin jejak kakak. Semoga ada pembukaan seleksi untuk lulusan D3 di tahun ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam. Halo Retno, salam kenal.

      Saya cuma segelintir orang yang mau berusaha dan belajar di atas rata-rata orang lain. Man Jadda wa Jadda, Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil, Insya Allah. Itu prinsip saya dari dulu. Allah menilai dari ikhtiar dan doa kita. Jangan lupa minta doa orang tua, biar kita selalu diridhoi dan diberkahi. Sukses untuk Retno. Saya mendoakan dari jauh :)

      Hapus